Waspada Demam Berdarah Dengue

DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

 

Perubahan cuaca yang tidak menentu dapat memicu timbulnya berbagai penyakit, salah satunya adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Menurut data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) per 1 Maret 2024, ditemukan sebanyak 16.000 kasus DBD di 123 kabupaten di Indonesia disertai dengan 124 kematian yang disebabkan karena DBD. Dengan demikian, dibutuhkan peran masyarakat dalam upaya pencegahan berkembangnya kasus DBD.

Pengertian

Demam Berdarah Dengue atau biasa disingkat dengan DBD merupakan infeksi virus Dengue akibat gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus yang sering berkembangbiak di negara tropis dan sub-tropis seperti Indonesia. Nyamuk ini lebih sering ditemukan di dalam rumah yang gelap dan sejuk, termasuk pada genangan air atau baju yang tergantung dibandingkan di luar rumah yang panas.

Kasus DBD lebih banyak ditemukan pada anak-anak di bawah 15 tahun. Selain itu, orang yang tinggal atau bepergian ke daerah tropis lebih berisiko terkena infeksi Dengue. Seseorang bisa terinfeksi virus Dengue lebih dari sekali dan infeksi yang kedua akan memiliki risiko mengalami gejala yang lebih parah dibandingkan infeksi pertama.

Angka kejadian DBD di Indonesia justru ditemukan paling banyak di provinsi besar dan padat penduduk, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah yang merupakan tiga provinsi dengan kasus DBD terbanyak pada tahun 2022. Menurut Kemenkes RI tahun 2022, kasus DBD di Yogyakarta ditemukan sebanyak 2.164 kasus.

 

Gejala

Jika seseorang terinfeksi virus Dengue, gejalanya bisa saja muncul 4-10 hari kemudian, di antaranya:

  1. Demam tinggi dapat mencapai 40ºC
  2. Nyeri kepala dan belakang mata
  3. Nyeri otot dan sendi
  4. Ruam atau bintik kemerahan di kulit

Infeksi DBD dapat memberikan gejala demam yang hilang timbul, bahkan bisa terdapat periode dimana demam mengalami penurunan. Namun, jika demam mereda, bukan berarti sudah sembuh. Demam yang mereda pada kasus DBD termasuk ke dalam fase kritis, di mana akan terjadi kebocoran pembuluh darah yang dapat menimbulkan tanda perdarahan dan penurunan trombosit yang cepat. Jika terjadi hal ini, maka penderita tidak boleh hanya ditangani di rumah karena penurunan trombosit yang cepat dapat menimbulkan kondisi syok dan lebih parah lagi sampai dapat menyebabkan kematian. Penanganan yang cepat dan tepat harus segera dilakukan jika sudah terjadi syok. Oleh karena itu, perlu diperhatikan gejala-gejala yang merupakan tanda peringatan keadaan darurat seperti berikut:

  1. Muntah terus menerus
  2. Nyeri perut
  3. Gelisah atau lemas disertai sesak
  4. Mimisan atau perdarahan gusi dan kulit
  5. Darah dalam urin atau tinja
  6. Darah dalam muntahan

Dengue ± warning signs

Severe Dengue

Probable Dengue

Warning Signs

Severe Dengue: DF dengan 1 atau lebih kriteria

Dengue Shock Syndome

Tinggal/pernah bepergian dari daerah endemis

  • Nyeri perut / tenderness
  • Muntah persisten
  • Penumpukan cairan (ascites, efusi pleura)
  • Perdarahan mukosa
  • Letargi
  • Hepatomegali >2 cm
  • Lab: peningkatan hematokrit dengan trombositopenia cepat
  • Plasma leakage
  • Perdarahan
  • Disfungsi organ: transaminase ?1000 IU/L, gangguan kesadaran, disfungsi miokard, disfungsi paru
  • Peningkatan hematokrit dengan cepat
  • Nyeri perut hebat
  • Muntah persisten
  • Tekanan darah menurun atau tidak teraba sama sekali

Demam + 2 kriteria:

  • Mual, muntah
  • Ruam
  • Mialgia
  • Atralgia
  • Tes tourniquet positif
  • Leukopenia

 

Pengobatan

Penanganan DBD paling utama adalah dengan konsumsi banyak cairan untuk mencegah terjadinya dehidrasi, baik melalui cairan oral maupun melalui cairan intravena. Penderita juga disarankan untuk istirahat total dan melakukan kompres tubuh untuk mengatasi demam. Obat-obatan diberikan sesuai dengan gejala yang timbul, seperti penurun panas, pereda nyeri perut, serta obat antimuntah. Dalam menangani kasus DBD harus konsultasi ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

 

Pencegahan

Pencegahan utama penyakit DBD adalah dengan melakukan vaksinasi Dengue karena dapat memberikan kekebalan seumur hidup. Namun, hingga saat ini vaksin Dengue masih dalam tahap perkembangan. Selain itu, pencegahan DBD dapat dilakukan secara individu dengan menjaga kebersihan lingkungan. Oleh karena itu, salah satu pencegahan DBD yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan 3M Plus, yaitu:

  1. Menguras

Merupakan kegiatan membersihkan dan menguras tempat-tempat penampungan air, seperti bak mandi, toren air, bak penampung air dan lainnya yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya jentik nyamuk. Gosok dan bersihkan semua dinding bak hingga bersih, terutama saat musim hujan dan pancaroba, karena jentik dan telur nyamuk dapat bertahan di tempat kering hingga 6 bulan.

  1. Menutup

Tutup rapat-rapat semua tempat penampungan air dan kubur barang-barang bekas di dalam tanah, agar tidak mengotori lingkungan dan menjadi sarang nyamuk. 

 

  1. Mendaur ulang

Memanfaatkan kembali barang-barang bekas yang bernilai ekonomis. Limbah barang bekas yang tidak didaur ulang berpotensi menjadi sarang nyamuk. 

Selain 3M, cara-cara mencegah DBD lainnya, yang disebut Plus adalah

  • Membudidayakan ikan pemakan jentik nyamuk, seperti ikan guppy.
  • Memasang kawat kasa pada ventilasi dan jendela di kamar dan ruangan.
  • Menjaga kebersihan lingkungan secara bergotong royong.
  • Memeriksa tempat-tempat penampungan air.
  • Meletakkan baju bekas pakai dalam wadah tertutup.
  • Meletakkan larvasida pada penampungan air yang susah dibersihkan.
  • Memperbaiki saluran dan talang air yang mampet.
  • Memelihara tanaman pengusir nyamuk, seperti lavender.